TERNATE – Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, secara resmi mengukuhkan Rusni Sarbin sebagai Bunda Literasi Provinsi Maluku Utara dalam sebuah prosesi khidmat yang berlangsung di Ballroom Bela Hotel Ternate pada Senin (11/5). Langkah strategis ini segera diikuti dengan pengukuhan Bunda Literasi tingkat kabupaten/kota di seluruh wilayah Maluku Utara guna memastikan penguatan ekosistem literasi dapat menjangkau seluruh tantangan geografis kepulauan.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur memaparkan bahwa meski skor literasi tahun 2026 menunjukkan tren peningkatan berkat kolaborasi daerah, tantangan besar terkait akses masih membayangi. Beliau menekankan bahwa keterbatasan akses terhadap buku fisik di wilayah kepulauan serta rendahnya tingkat literasi digital tetap menjadi hambatan serius bagi kemajuan daerah.
“Karena itu, kehadiran Bunda Literasi hari ini sangat penting sebagai langkah strategis memperkuat ekosistem literasi,” tegas Sarbin di hadapan para pengurus TP-PKK dan pejabat yang hadir.
Wagub berharap para Bunda Literasi yang baru dikukuhkan tidak hanya menjadi figur seremonial, melainkan motor penggerak program nyata di lapangan. Beliau mendorong adanya penyediaan ruang belajar melalui Taman Baca Masyarakat di tingkat desa, kehadiran perpustakaan digital untuk menembus batas kepulauan, hingga penguatan Literasi Media Sosial agar masyarakat lebih bijak memilah informasi.
Sarbin juga mengingatkan pentingnya Gerakan Membaca Keluarga sebagai fondasi awal untuk mendorong kebiasaan membaca minimal 15 menit setiap hari di lingkungan rumah.
Kaitan antara literasi dan pembangunan daerah juga disinggung Wagub melalui kondisi geografis Maluku Utara yang didominasi lautan. Beliau menjelaskan bahwa sulitnya akses darat di sebagian besar wilayah menjadi alasan utama Pemprov terus memperjuangkan pengesahan RUU Provinsi Kepulauan demi pemerataan fasilitas pendidikan.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Perpusnas RI, Prof. E. Aminudin Aziz, memberikan penekanan bahwa transformasi sebuah bangsa harus dimulai dari pendidikan yang berakar pada budaya membaca. Beliau menegaskan bahwa keberadaan gedung perpustakaan tidak akan memberikan dampak signifikan tanpa adanya gerakan masif dari lingkungan keluarga.
“Tidak cukup hanya gedung perpustakaan. Kita butuh ibu-ibu menggerakkan semangat membaca dari rumah,” tutupnya.