Berbondong-Bondong Investasi Smelter

Sudah sejak lama, Presiden Joko Widodo mendorong pelaku usaha untuk melakukan penghiliran. Pasalnya, dengan melakukan penghiliran, bangsa ini memperoleh nilai tambah dan daya saing produk. Harapannya, banyak lagi smelter-smelter yang dibangun. Gayung pun bersambut. Sejumlah kelompok usaha besar tanah air berlomba-lomba membangun smelter. Tahun lalu, Grup Harita melalui PT Halmahera Persada Lygend telah memulai operasional fasilitas smelter nikel berteknologi hidrometalurgi high pressure acid leach.

Pabrik itu mampu memproduksi mixed hydroxide precipitate sebanyak 365.000 ton dan turunan nikel sulfat sebanyak 246.750 ton serta 31.800 ton kobalt sulfat. Kapasitas inputnya mencapai 8,3 juta ton bijih nikel.

Grup Harita sebenarnya telah memulai konstruksinya sejak September 2018 dengan membenamkan investasi USD1,06 miliar atau setara Rp14,8 triliun. Grup Harita menggandeng Ningbo Lygend Mining asal Tiongkok dengan komposisi kepemilikan masing-masing Grup Harita 63,1 persen dan Ningbo 36,9 persen

Demikian pula grup Andi Syamsudin Arsyad atau akrab disapa Haji Isam, Kalimantan Selatan. Melalui PT Jhonlin Grup juga berencana membangun smelter nikel mulai April 2022 di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Investasinya pun tak tanggung-tanggung, senilai USD440 juta. Rencananya smelter itu dibangun di atas tanah 2.000 hektare dan diharapkan bisa menyerap 10.000 tenaga kerja.

Kawasan itu nantinya merupakan kawasan ekonomi khusus, tidak hanya ada smelter nikel, namun juga ada pabrik biodiesel, pabrik plywood, dan pabrik pengolahan plastik. Sementara itu, konglomerat asal Sulawesi Selatan, Kalla Grup pun tak mau kalah. Grup yang terafiliasi dengan mantan Wapres Jusuf Kalla itu juga baru saja masuk ke industri smelter bernama PT Bumi Mineral Sulawesi di Luwu Industrial Park di kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Bahkan, Kalla Group juga telah menggandeng konglomerat asal Korea Selatan, Pohang Iron and Steel Company (Posco), untuk menggarap industri baterai. Bentuk kerja samanya, Posco akan menjadi offtaker seluruh produk nikel suphate yang dihasilkan smelter bumi mineral Sulawesi.

Dan di penghujung 2021, konglomerat asal Lampung, yakni keluarga Tohir melalui PT Adaro Alumunium Indonesia telah menandatangani Letter of Intention to Invest sebesar USD728 juta atau setara dengan Rp1.848 triliun. Perusahaan milik keluarga Tohir berencana membangun kawasan industri hijau pertama di Indonesia, PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI), Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Green Initiatives

Seperti disampaikan Wakil Presiden Direktur Adaro Energy Ario Rachmat dalam keterangan resminya, Kamis (23/12/2021), Adaro berkomitmen melakukan transformasi bisnis melalui green initiative jangka panjang, antara lain, dengan berinvestasi membangun smelter aluminium guna mendukung program hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah.

“Melalui investasi ini, kami berharap dapat membantu mengurangi impor aluminium, memberikan proses dan nilai tambah terhadap alumina serta meningkatkan penerimaan pajak negara,” ujarnya.

Untuk mengembangkan industri ini, emiten berkode ADRO itu akan menggandeng mitra asing yang sudah memiliki rekam jejak, pengalaman, teknologi terkini dan pengetahuan terdepan di industri aluminium. Ario optimistis, permintaan dunia atas produk aluminium akan terus meningkat, terutama untuk kabel, baterai, dan sasis.

“Kami juga berharap di masa mendatang, industri lainnya seperti industri panel surya dan mobil listrik yang membutuhkan aluminium juga bisa diproduksi di sini.”

Dalam tahapan proses produksi dan pengembangan selanjutnya, smelter aluminium Adaro akan memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan standar konstruksi modern yang ramah lingkungan dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Presdir Adaro Energy Garibaldi Thohir, dalam keterangannya yang sama, juga menjelaskan bahwa kawasan industri itu akan dimulai dengan pengembangan dua pabrik utama, yakni pabrik smelter aluminium atau green aluminium smelter dan pabrik baterai untuk kendaraan listrik (new battery energy).

Menurut dia, pengembangan kawasan industri ini telah menarik banyak investor domestik maupun asing. Salah satunya melalui pembangunan green aluminium smelter yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun global. “Serta mempercepat hilirisasi bagi komoditas Indonesia.”

Dalam kaitan itu, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, kawasan industri bernama PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) tersebut dibangun di atas tanah milik Garibaldi Thohir atau Boy Thohir.  Proyek kawasan Industri Hijau terbesar di Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, murni digarap pihak swasta yang terdiri dari konsorsium swasta nasional dan luar negeri menggunakan skema business to business (B2B).

Tentu, pembangunan kawasan industri hijau yang diinisiasi keluarga Tohir itu patut diapresiasi. Apalagi mereka berkomitmen mendirikan kawasan industri yang beroperasi dengan menerapkan teknologi maupun produksi bersih.

Umumnya, kawasan industri hijau itu turut terlibat dalam pengolahan limbah dan berkontribusi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Setidaknya kawasan seperti itu telah dimulai oleh beberapa negara maju dan berkembang, seperti Korea Selatan, Denmark, Tiongkok, Thailand, hingga Jerman.

Di Kalimantan Utara, Green Industrial Park diklaim paling luas di dunia. Proyek kawasan industri milik PT Kalimantan Industrial Park Indonesia (KIPI) dan PT Kawasan Industri Kalimantan Indonesia (KIKI) itu disebut sebagai kawasan industri terbesar di dunia, dengan luas 30.000 hektare. Disebut-sebut, sejumlah investor asal Tiongkok dan Uni Emirat Arab sudah bergabung juga di kawasan industri tersebut.

“Kami selaku konsorsium swasta nasional dan luar negeri, terdorong untuk mengembangkan kawasan industri hijau terbesar di dunia, yang juga merupakan proyek industrial estate terbesar yang pernah dibangun oleh swasta di tanah air,” tambah Garibaldi Tohir.

Data Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi menyebutkan, jumlah smelter terus bertambah. Bila 2001, jumlah smelter di Indonesia baru sebanyak 17 unit, pada 2020 sebanyak 19 unit, 2021 sebanyak 23 unit, dan pada 2024 diharapkan smelter bisa mencapai 53 unit.

Dengan semakin banjirnya investor yang masuk ke industri penghiliran, Kebijakan Kabinet Indonesia Maju, kabinet pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin yang telah berjalan sejak 2019 sudah menapak jalan yang benar, dengan terus menggenjot pendalaman struktur industri manufaktur melalui kebijakan hilirisasi berbasis sektor primer.

Apalagi, melalui program hilirisasi, manfaat dalam meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional, di antaranya peningkatan pada investasi, penyerapan tenaga kerja, dan pertumbuhan industri manufaktur di dalam negeri, semakin terakselerasi.

Penulis: Firman Hidranto

Sumber: Indonesia.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.