Harita Nickel Memberikan dampak Baik Untuk Masyarakat Kawasi

Harita Nickel yang terdiri dari PT Trimegah Bangun Persada (PT TBP) dan PT Megah Surya Pertiwi (PT MSP) melalui kegiatan Corporate Social Responsibility-nya (CSR) terus memberikan fasilitas infrastruktur dan pemberdayaan bagi warga di Desa Kawasi, sejak beroperasi pada tahun 2015. 

Pasalnya, sejumlah infrastruktur yang ada di daerah seputaran perusahaan tersebut sudah dilakukan, salah satunya adalah pembangunan dan penyelesaian rumah ibadah seperti masjid dan gereja yang lokasi tersebut.

Manager CSR PT MSP, Khairudin Lubis mengatakan pengembangan rumah ibadah seperti masjid dan gereja merupakan hal yang paling utama dilakukan perusahaan, karena sejak perusahaan beroperasi kedua rumah ibadah tersebut sudah mulai dibangun. 

“Prioritas perusahaan pada saat beroperasi yaitu mendirikan rumah ibadah bagi warga di sekitar Desa Kawasi. Karena kami melihat di desa tersebut memang ada rumah ibadah, namun kondisinya masih belum baik,” ungkapnya.

Lelaki yang akrab disapa Rudi itu mengatakan, rumah ibadah yang didirikan yaitu masjid dan gereja tersebut sudah mulai digunakan pada tahun 2017 sementara rumah ada gereja sudah di resmikan sejak tahun 2015 silam.

Program CSR yang diperuntukkan untuk masyarakat lingkar tambang kata dia, selain diprioritaskan pada Infrastruktur kebutuhan dasar masyarakat, pihak perusahaan juga mendukung berbagai kegiatan salahsatunya kegiatan keagamaan diantaranya Maulid Nabi dan juga kegiatan keagamaan lainnya. 

“Untuk Idul Adha saja pada tahun lalu kami menyediakan 13 ekor sapi yang dibagi ke sejumlah desa di Pulau Obi, dan kami juga melakukan kegiatan filantropi untuk perayaan Maulid Nabi,” ucapnya.

Sementara itu, H. M. Zoronga selaku tokoh adat di Desa Kawasi, mengaku keberadaan Harita Nickel sangat membantu warga di sekitar Desa Kawasi, pasalnya sebelum adanya Harita Nickel, kondisi warga di sekitar kurang baik karena kurangnya perhatian dari pemerintah daerah.

“Kalau menceritakan sejarah Kawasi hari ini saya sangat malu, karena itu cerita penduduk miskin di sini, jadi petani mau jual sayur dimana, jadi nelayan juga jual ikan dimana, kita bisa mencari tapi tidak bisa dijual, ini daerah yang tidak dipedulikan atau bisa dikatakan anak tiri, kurang perhatian pemerintah karena terpisah dengan berbeda dengan desa-desa yang lain,” akunya.

Untuk tempat ibadah, warga desa Kawasi sebelumnya memiliki masjid namun, kondisinya sangat tidak layak untuk melaksanakan ibadah, karena selain tempat yang kecil, masjid tersebut juga tidak memiliki penerangan. 

“Mesjid yang sekarang lebih luas dan tempatnya sangat baik, begitu pula dengan keberadaan gereja yang ada di desa Kawasi yang sudah sangat berubah dengan mayoritas penduduknya beragama Kristiani,“ katanya.

Hal senada juga disampaikan Rahmawati selaku Ketua Majelis Taklim Masjid An-Nur, dikatakan, keberadaan perusahaan sangat baik untuk warga, khususnya perempuan di majelis taklim, sebab perusahaan membuka lahan untuk para perempuan berusaha seperti menjadi petani sayur, membuat kue, serta membuka catering bagi karyawan di perusahaan.  

“Untuk koperasi serba usaha (KSU) saja kebanyakan dari ibu-ibu sini, kemudian kalau ada kegiatan keagamaan juga perusahaan bantu dana, perusahaan juga membuka lahan untuk ibu-ibu yang ingin membuka usaha,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.