Anomali Mobil Elektrifikasi di Tengah Pandemi

Spread the love

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL BB) atau mobil elektrifikasi di dunia.

Pasalnya, Indonesia memiliki hampir seperempat cadangan bijih nikel dunia yang sekaligus menjadikannya sebagai sumber paling besar. Nikel merupakan bahan utama produksi baterai kendaraan ramah lingkungan tersebut.

“Teknologi kendaraan listrik relatif lebih mudah dikembangkan dan Indonesia memiliki nikel terbesar di dunia sebagai bahan baku pembuatan baterai,” kata Luhut belum lama ini.

Berdasarkan hal itu, Luhut kemudian memperkirakan 80 persen komponen kendaraan listrik dimiliki Indonesia, tinggal bagaimana pengolahannya saja.

Untuk mengembangkan kendaraan listrik, Luhut menyatakan Indonesia dapat menggandeng sejumlah negara seperti China yang teknologi industri di sektor itu sudah sangat maju.

Bagaimanapun, kata dia, China memiliki pengalaman sangat lama dalam mengembangkan kendaraan listrik.

Namun, tegas Luhut, ke depan harus ada transfer teknologi yang nantinya bisa dikembangkan sendiri oleh tenaga-tenaga ahli orang Indonesia.

“Untuk itu Indonesia sudah mengirimkan banyak tenaga-tenaga ahli dari berbagai universitas terkemuka, dikirim ke China, untuk belajar kendaraan listrik. Kita pelajari keberhasilannya juga kesalahan yang pernah mereka alami,” kata Luhut.

Hal senada diungkapkan Penasihat Khusus Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Satryo Soemantri.

“Kita tentunya tidak ingin menjadi importir kendaraan terus-menerus, tapi harus bisa memproduksi kendaraan listrik. Dari sisi teknologi sebenarnya Indonesia sudah bisa menguasai,” kata Satryo.

Menurut Satryo, untuk tahap pertama Indonesia akan mencoba mengembangkan dua hal. Pertama, mengembangkan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Kedua, mengembangkan baterai lithium sebagai komponen penggerak utama kendaraan listrik.

Seiring dengan itu, Pemerintah tengah melakukan percepatan proses konstruksi dan investasi dalam persiapan membangun industri mobil listrik berupa pabrik bahan baku.

Satu di antaranya ialah di Harita Nickel yang berada di Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

“Untuk cell battery, akhir tahun ini atau awal 2021 sudah ada industri yang menghasilkan baterai di sana,” kata Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika.

Dalam catatan Kompas.com, fasilitas yang sebagian sahamnya akan dimiliki PT Pertamina (Persero) Tbk tersebut disasar untuk menjadi basis produksi baterai oleh kolaborasi perusahaan China dan Perancis.

Total investasi yang digelontorkan untuk fasilitas itu mencapai Rp 144 triliun. Kendati demikian, pihak Kemenperin belum ingin memberikan informasi lebih lanjut mengenai hal itu.

“Jika perencanaan sesuai target, akan ada langkah besar dari Indonesia. Ini sejalan dengan berbagai keunggulan yang kita miliki, mulai dari biaya tenaga kerja dan energi lebih murah, bahan baku baterai (nikel dan kobalt) melimpah, dan lainnya, sehingga amat kompetitif,” kata Putu.

Adapun Pertamina mengaku tengah menjajaki bisnis baru sebagai produsen baterai ini. Salah satu tujuannya, mendukung elektrifikasi di bidang otomotif.

Andianto Hidayat, Vice President R&T Planning & Commercial Research & Technology Center Pertamina mengatakan, bisnis pabrik baterai lithium di Indonesia rencana realisasinya pada 2021 dengan lokasi pabrik berada di Jawa Barat.

“Saya belum bisa ngomong detail sekarang, tapi ya kita satu line dulu. Kami terbuka, sinergi BUMN juga ada, karena ada beberapa BUMN yang juga mau kerja sama,” kata Andianto.

Suplai produksi baterai Pertamina bakal didukung pabrik bahan baku baterai di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah, yang pernah diklaim bakal menjadi terbesar di dunia.

“(Ini) kelanjutan dari proses di Morowali. Di sana kan punya Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) akan bikin komponen baterai. Kami enggak masuk di sana (Morowali). Kami cuma ambil hasil dari sana untuk menjadi anoda dan katoda,” ucap Andianto.

Produk baterai yang diproduksi Pertamina dikatakan bakal menyesuaikan permintaan, diantaranya jenis lithium nickel manganese cobalt oxide (NMC) dan lithium ferrophosphate (LFP).

Kabar terbaru, Luhut menyatakan bahwa Tesla telah membuka komunikasi untuk turut berinvestasi di Indonesia, terkait industri mobil elektrifikasi. Luhut mengaku telah berbicara lewat telepon dengan perwakilan Tesla.

Luhut juga telah berada di Amerika Serikat sejak Minggu (15/11/2020) dengan agenda semula bertemu Elon Musk, CEO Tesla. Rencana itu batal karena Musk dinyatakan positif Covid-19.

Batal bertemu Musk, Luhut yang terbang ke Amerika bersama Wakil Menteri Luar Negeri, Mahendra Siregar, akan menemui sejumlah investor.

Sumber: Kompas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *